ArmijnPane, Amir Hamzah, dan Sutan Takdir Alisjahbana (STA), tiga penulis dari Pulau Sumatra, memulai proses pembentukan majalah baru pada bulan September 1932. Mereka mengirimkan surat kepada 40 penulis yang aktif dalam bagian sastra dari koran Pandji Poestaka dan meminta tulisan, serta sepuluh surat kepada para sultan untuk meminta dukungan. Kemudiandikumpulkan dengan kata pengantar oleh Sutan Takdir Alisjahbana yang ketika itu menjadi redaktur Balai Pustaka. Kumpulan itu diberi judul Kawan Bergulat (1938) judul ini tidak banyak beda dengan judul kumpulan Cerpen M. Kasim: Maksudnya Hendaknya menunjuk isi buku tersebut hanyalah sekedar bahan bacaan senggang. TriyantoTriwikromo, menulis puisi dan cerpen. Antologi puisi bersamanya antara lain Panorama Dunia Keranda. Kumpulan cerpennya: Rezim Seks, Ragaula, Sayap Anjing, Anak-anak Mengasah Pisau, Malam Sepasang Lampion, dan Ular di Mangkuk Nabi. Kumcer yang disebut terakhir mendapat penghargaan sastra 2009 dari Pusat Bahasa. Salahsatu bentuk karya yang mempunyai dasar untuk membangkitkan rasa semangat bangsa adalah karya sastra yang berbentuk roman. "Layar Terkembang" adalah salah satu roman yang diciptakan oleh Sutan Takdir Alisjahbana..Tema pokok dari Layar Terkembang ialah perjuangan dalam mencapai kebesaran dan kejayaan bangsa, terutama yang harus dilakukan oleh kaum muda yang harus berjiwa baru. Sutan Takdir Alisyahbana), Atheis (Achdiat Kartamihardja), dan beb erapa puisi karya Amir Hamzah, Chairil Anwar, Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Damono, dan Abdul Hadi Masihbanyak roman atau karya Nur Sutan Iskandar yang terbit setelah tahun 1933. misalnya Katak Hendak Jadi Lembu (1935), Neraka Dunia (1937), Dewi Rimba (1935), Cinta dan Kewajiban (1941), dan lain-lain. Sutan Takdir Alisjahbana Motor dan penggerak semangat gerakan Pujangga baru ialah Sutan Takdir Alisyahbana lahir di Natal 1908. Sejak EnsiklopediBahasa dan Sastra Modern: Sejarah Dan Pengertian Sastra Sastrawan Sutan Takdir Alisjahbana dalam usia senjanya masih aktif dan tegar. Tekad hidupnya yang kuat berhasil melewati berbagai kebudayaan. Ulang Tahunnya Ke-82 diperingati Universitas Nasional. Ta' poetoes diroendoeng malang Beberapatokoh seperti Sutan Takdir Alisjahbana (1908-1986), Amir Hamzah (1911-1946), dan Arjmin Pane (1908-1970) merupakan penyair dalam angkatan Pujangga Baru ini. Berikut ini ciri atau karakteristik puisi baru, diantaranya yaitu: Padamasa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 - 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Karyanya Layar Terkembang, menjadi salah satu novel yang sering diulas oleh para kritikus sastra Dantuhan telah mengutus bumi Untuk menantang yang melawan takdir. Apabila aku dalam kangen dan sepi itulah berarti aku tungku tanpa api. Menuju ke Laut (Sutan Takdir Alisjahbana) Kami telah meninggalkan engkau, Tasik yang tenang tiada beriak, diteduhi gunung yang rimbun, dari angin dan topan. OQcDH. Pembaca Puisi Aku dan Tuhanku AKU DAN TUHANKU Karya Sutan Takdir Alisyahbana Tuhan, Kau lahirkan aku tak pernah kuminta Dan aku tahu, sebelum aku Kau ciptakan Berjuta tahun, tak berhingga lamanya Engkau terus menerus mencipta berbagai ragam Tuhan, pantaskah Engkau memberikan hidup sesingkat ini Dari berjuta-juta tahun kemahakayaan-Mu Setetes air dalam samudra tak bertepi Alangkah kikirnya Engkau, dengan kemahakayaan-Mu Dan Tuhanku, dalam hatikulah Engkau perkasa bersemayam Bersyukur sepenuhnya akan kekayaan kemungkinan Terus menerus limpah ruah Engkau curahkan Meski kuinsyaf, kekecilan dekat dan kedaifanku Di bawah kemahakuasaan-Mu, dalam kemahaluasan kerajaan-Mu Dengan tenaga imajinasi Engkau limpahkan Aku dapat mengikuti dan meniru permainan-Mu Girang berkhayal dan mencipta berbagai ragam Terpesona sendiri menikmati keindahan ciptaanku Aahh, Tuhan Dalam kepenuhan terliput kecerahan sinar cahaya-Mu Menyerah kepada kebesaran dan kemuliaan kasih-mu Aku, akan memakai kesanggupan dan kemungkinan Sebanyak dan seluas itu Kau limpahkan kepadaku Jauh mengatasi mahluk lain Kau cipatakan Sebagai khalifah yang penuh menerima sinar cahaya-Mu Dalam kemahaluasan kerajaan-Mu Tak adalah pilihan, dari bersyukur dan bahagia, bekerja dan mencipta Dengan kecerahan kesadaran dan kepenuhan jiwa Tidak tanggung tidak alang kepalang Ya Allah Ya Rabbi Sekelumit hidup yang Engkau hadiahkan dalam kebesaran dan kedalaman kasih-Mu, tiada berwatas akan kukembangkan, semarak, semekar-mekarnya sampai saat terakhir nafasku Kau relakan Ketika Engkau memanggilku kembali kehadirat-Mu Ke dalam kegaiban rahasia keabadian-Mu Dimana aku menyerah tulus sepenuh hati Kepada keagungan kekudusan-Mu, Cahaya segala cahaya Sutan Takdir Alisyahbana Toya Bongkah 24 April 198 =================================================== Tuhan, Kau lahirkan saya tak pernah kuminta Dan saya tahu, sebelum saya Kau ciptakan Berjuta tahun, tak berhingga lamanya Engkau terus menerus mencipta berbagai ragam Tuhan, pantaskah Engkau menunjukkan hidup sesingkat ini Dari berjuta-juta tahun kemahakayaan-Mu Setetes air dalam samudra tak bertepi Alangkah kikirnya Engkau, dengan kemahakayaan-Mu Dan Tuhanku, dalam hatikulah Engkau perkasa bersemayam Bersyukur sepenuhnya akan kekayaan kemungkinan Terus menerus limpah ruah Engkau curahkan Meski kuinsyaf, kekecilan akrab dan kedaifanku Di bawah kemahakuasaan-Mu, dalam kemahaluasan kerajaan-Mu Dengan tenaga imajinasi Engkau limpahkan Aku sanggup mengikuti dan memalsukan permainan-Mu Girang berkhayal dan mencipta banyak sekali ragam Terpesona sendiri menikmati keindahan ciptaanku Aahh, Tuhan Dalam kepenuhan terliput kecerahan sinar cahaya-Mu Menyerah kepada kebesaran dan kemuliaan kasih-mu Aku, akan menggunakan kesanggupan dan kemungkinan Sebanyak dan seluas itu Kau limpahkan kepadaku Jauh mengatasi mahluk lain Kau cipatakan Sebagai khalifah yang penuh mendapatkan sinar cahaya-Mu Dalam kemahaluasan kerajaan-Mu Tak adalah pilihan, dari bersyukur dan bahagia, bekerja dan mencipta Dengan kecerahan kesadaran dan kepenuhan jiwa Tidak tanggung tidak alang kepalang Ya Allah Ya Rabbi Sekelumit hidup yang Engkau hadiahkan dalam kebesaran dan kedalaman kasih-Mu, tiada berwatas akan kukembangkan, semarak, semekar-mekarnya sampai ketika terakhir nafasku Kau relakan Ketika Engkau memanggilku kembali kehadirat-Mu Ke dalam kegaiban belakang layar keabadian-Mu Dimana saya mengalah lapang dada sepenuh hati Kepada keagungan kekudusan-Mu, Cahaya segala cahaya Sutan Takdir Alisyahbana Toya Bongkah 24 April 1989 Navigasi pos 0% found this document useful 0 votes599 views5 pagesCopyright© Attribution Non-Commercial BY-NCAvailable FormatsDOC, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes599 views5 pagesPuisi Aku Dan Tuhanku Oleh Sutan Takdir AlisjahbanaJump to Page You are on page 1of 5 You're Reading a Free Preview Page 4 is not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.